Dunia Pendidikan Tercoreng Lagi: Panggilan Tak Terjawab dari ‘Guru Mesum’ Ungkap Dugaan Pelecehan di Tasikmalaya
Portal Media Kota Tasikmalaya- Dunia pendidikan kembali suram oleh kabut kelam pelecehan seksual. Seorang guru ngaji di Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, kini berada dalam sorotan setelah dilaporkan ke pihak kepolisian atas tuduhan melakukan perbuatan asusila terhadap seorang muridnya yang masih berusia remaja.

Baca Juga : KPAID Tasikmalaya Buka Suara Kekerasan pada Anak Alami Tren Meningkat yang Mengkhawatirkan
Kasus ini pertama kali terkuak ke publik berkat keberanian seorang warga yang menyuarakannya melalui media sosial. Dalam unggahan yang viral, seorang perempuan berkerudung putih tidak hanya membeberkan tindakan pelecehan yang diduga terjadi, tetapi juga mengungkapkan adanya upaya penguburan kasus dengan tawaran sejumlah uang dari pihak tertentu kepada keluarga korban agar tidak membawa persoalan ini ke ranah hukum.
Proses Hukum Berjalan, Polisi Masih Mendalami
Kapolres Tasikmalaya Kota, melalui Kasat Reskrim, AKP Herman Saputra, membenarkan bahwa laporan tersebut telah resmi diterima oleh pihaknya. Herman menyatakan bahwa proses penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap kebenaran di balik laporan tersebut.
“Benar, laporan tersebut sudah kami terima. Saat ini, tim masih melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan semua fakta dan bukti yang ada,” ujar Herman saat dikonfirmasi.
Ditegaskannya, kepolisian belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. “Kami belum menetapkan tersangka. Langkah kami sekarang adalah mengumpulkan seluruh keterangan dari para pihak yang terkait, termasuk dari pihak terlapor, serta mengumpulkan bukti-bukti pendukung. Kami mohon waktu untuk proses yang komprehensif,” jelas Herman.
Korban: Jejak Digital ‘Guru Mesum’ yang Membongkar Aib
Berdasarkan penelusuran, laporan resmi pertama kali diajukan oleh ibu korban, seorang perempuan berinisial SM (39), kepada Polres Tasikmalaya Kota pada tanggal 11 Agustus 2025 yang lalu. Terlapor dalam kasus ini berinisial WHT, yang tak hanya dikenal sebagai seorang guru mengaji di lingkungannya, tetapi juga merupakan seorang pegawai di salah satu kantor desa di Kecamatan Sukaresik.
SM mengisahkan, awal mula terkuaknya kasus ini berawal dari kecurigaannya terhadap aktivitas ponsel anak perempuannya yang masih remaja. Perhatiannya tertuju pada sebuah jejak panggilan tak terjawab (missed call) dari sebuah kontak yang disimpan dengan nama yang mengerikan: “Guru Mesum”.
Dengan hati was-was, SM pun mendesak anaknya untuk menjelaskan. Setelah melalui pembicaraan hati-hati, sang anak akhirnya mengaku bahwa nomor telepon tersebut adalah milik WHT, guru mengajinya. Pengakuan yang lebih mengejutkan menyusul. Korban yang ketakutan akhirnya bercerita bahwa ia telah menjadi korban pelecehan seksual oleh WHT, di mana tubuhnya diraba-raba pada bagian-bagian yang sensitif.
Merasa hak anaknya sebagai korban telah dinistakan, SM pun mengambil langkah berani dengan melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib.





