Gawat! Kasus Kekerasan Anak di Tasikmalaya Melonjak, Gadget Diduga Jadi Pemicu Utama
Portal Media Kota Tasikmalaya- Sebuah fakta memilukan terungkap di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Layaknya alarm yang tidak henti berbunyi, angka kekerasan terhadap anak justru menunjukkan tren yang kian mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Data terbaru dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia KPAID Kabupaten Tasikmalaya membeberkan sebuah realitas pahit yang harus segera dihentikan.

Baca Juga : Pemkot Tasikmalaya Berdoa untuk Kesembuhan Wakil Wali Kota Diky Chandra
Berdasarkan catatan KPAID, sepanjang tahun 2024 tercatat 137 kasus kekerasan yang menimpa anak-anak
Yang lebih mencengangkan, di tahun 2025 ini, baru hingga akhir Agustus, angka tersebut sudah hampir menyentuh rekor tahun lalu dengan 103 kasus yang telah dilaporkan. Sebuah lonjakan yang menggambarkan betapa daruratnya situasi ini.
“Data kami menunjukkan bahwa kekerasan pada anak naik setiap tahun. Ini adalah tren yang sangat kami khawatirkan. Tahun lalu ada 137 kasus, dan tahun ini sebelum tahun berakhir, kita sudah diangka 103 kasus yang masuk,” ungkap Ato Rinanto, Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, dengan nada prihatin.
Sebuah Seruan untuk Berani: “Rise and Speak”
Menyikapi kondisi yang memprihatinkan ini, jajaran Kepolisian Resor (Polres) Tasikmalaya bersama Pemerintah Daerah tak tinggal diam. Mereka menggelar gerakan kampanye monumental bertajuk “Rise and Speak: Berani Bicara, Berani Melapor”. Kampanye yang diadakan di Kantor GPW Polres Tasikmalaya ini bukan sekadar seremoni belaka. Ratusan pelajar, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga pelajar berkebutuhan khusus, hadir untuk menyuarakan harapan mereka akan masa depan yang lebih aman.
AKBP Harus Dinzah, Kapolres Tasikmalaya, menekankan bahwa pencegahan kekerasan anak adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan sinergi semua lapisan masyarakat.
“Kita harus bekerja sama agar kekerasan terhadap anak bisa dicegah dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk mereka. Kami mengajak semua pihak untuk membangun perlindungan ini. Mari kita bersuara, kita lawan kekerasan pada anak!” tegas Kapolres. “Jika ada kekerasan, jangan ragu untuk melaporkan. Kami hadir melalui berbagai saluran untuk kalian.”
Bupati Soroti Peran Gadget dan Media Sosial
Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, secara terbuka mengakui bahwa angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayahnya masih terbilang tinggi. Politikus PPP ini memberikan sorotan khusus pada dampak buruk teknologi digital, yang menurutnya menjadi pemicu signifikan dalam kasus-kasus kekerasan.
“Kami menyoroti efek penggunaan gadget dan media sosial yang turut memicu kekerasan pada anak. Upaya pencegahan harus dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membatasi anak bermain gadget, menjaga pergaulan, hingga yang terpenting adalah memperkuat ikatan dan komunikasi di dalam keluarga,” jelas Bupati.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya akan segera mengeluarkan Surat Edaran tentang Pembatasan Penggunaan Gadget bagi pelajar. Kebijakan ini tidak hanya melarang membawa telepon genggam ke sekolah, tetapi juga mengatur penggunaannya di lingkungan rumah dengan menjadikan orang tua sebagai pengawas utama.
“Kami akan menginstruksikan sekolah-sekolah agar anak tidak diberikan fasilitas handphone selama waktu belajar, baik di sekolah maupun di rumah. Penggunaannya harus benar-benar dikontrol. Kita tidak boleh membiarkan anak ‘diasuh’ oleh konten-konten yang belum pantas mereka konsumsi,” tandas Cecep dengan tegas.
Harapan Tulus di Atas Hati Kertas
Kampanye “Rise and Speak” tidak hanya berisi pidato dan seminar, tetapi juga diwarnai dengan aksi simbolis yang menyentuh hati. Setiap anak diberikan selembar kertas berbentuk hati untuk menuliskan harapan mereka tentang dunia yang bebas dari kekerasan.
Di antara ratusan harapan, tulisan Fadlan, seorang siswa SD, berhasil menyita perhatian. Dengan polosnya, ia mencurahkan isi hatinya: “Aku mau dicintai ayah sama bunda juga pak dan bu guru di kelas. Gak mau aku dimarahin.”
Kalimat sederhana itu bagai gambaran universal dari keinginan setiap anak: untuk dicintai sepenuhnya, dilindungi, dan dibesarkan dalam lingkungan yang dipenuhi kasih sayang, bukan kemarahan dan kekerasan. Suara Fadlan adalah pengingat bagi semua pihak bahwa di balik data dan statistik, ada anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan kepedulian kita semua.





